Rabu, 01 Februari 2017

SENYUM, SENYUM, DAN SENYUM

Senyum senyum dan senyum
Aku sudah lama mengenalnya rekan sejawatku. Tetapi Percayalah engkau bahwa sampai saat ini aku sendiri tidak tahu Apakah giginya sudah tumbuh atau tidak. Ia selalu  tak berekspresi, jika senyum usianya seperti berkurang atau hartanya bisa hilang.
Jarir bin Abdullah Al Bajali berkata, “Setiap kali Rasulullah bertemu denganku beliau selalu tersenyum kepadaku”.
Selain bermacam-macam, senyum itu juga memiliki berapa tingkatan. Ada yang menandakan senantiasa keceriaan. Demikian ini ditandai dengan raut wajahmu yang berseri-seri. Jika engkau seorang guru ketika bertatap muka dengan murid pasangkan lah wajahmu berseri-seri. Atau saat engkau naik pesawat terbang dalam perjalanan diantara tempat duduk orang lain, lemparkanlah keceriaan. Ketika engkau masuk warung atau bank dan menyodorkan uang untailah senyum. Manakala engkau di forum tiba-tiba seorang masuk dan mengucapkan salam dengan suara tinggi sambil menyiapkan pandangan kepada hadirin Tersenyumlah.
Secara umum senyum sangatlah berpengaruh untuk meredam amarah keraguan dan kebimbangan. Seorang jagoan adalah yang mampu menguasai perasaan dan Tersenyum Dalam keadaan pahit sekalipun.
Suatu hari Anas bin Malik berjalan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Kebetulan Rasulullah saat itu mengenakan baju burd najrani, yang bagian pinggirnya keras.Tiba-tiba salah seorang Arab pedalaman mengejar mereka. Setelah dekat, orang itu menarik pakaian Nabi dengan keras sampai bergerak kasar di bagian leher beliau.
Anas berkata, “karena teramat keras aku sampai melihat bekas tarikan bahu Rosululloh”.
Apa sebenarnya yang diinginkan orang ini?
Apakah rumahnya kebakaran dan menginginkan bala bantuan?
Apakah iya dikejar-kejar orang musyrik dan meminta pertolongan?
Dengarkan apa yang ia inginkan?
Ia berkata , “Wahai Muhammad! (perhatikan ia tidak memanggil wahai Rasulullah).”
Ia berkata, “ Wahai Muhammad Perlihatkan kepadaku terhadap harta yang Allah titipkan padamu!”.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menoleh, kemudian tertawa. Setelah itu, beliau perlihatkan orang itu diberi sesuatu
Ya, Rasulullah tak mudah terprovokasi oleh keadaan seperti ini. Beliau tidak ringan tangan dalam hukum dan bersitegang untuk urusan sepele. Beliau berlapang dada dan kuat mengontrol emosi. Simpul senyum selalu terdapat padanya dalam keadaan pahit sekalipun. Sebelum melakukan sesuatu beliau selalu berpikir dampak dan akibat nya. Beliau sadar betul bahwa berteriak atau mengusir orang itu tidak ada gunanya.
Apakah dengan begitu luka di leher beliau kemudian jadi sembuh?! Apakah orang itu kemudian akan berubah jadi santun?! tentu  tidak ada pilihan selain sabar dan tabah.
Memang ada beberapa hal yang membuat kita berontak dan marah. Memperbaiki adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Kita harus memperbaiki dengan ramah, lembut, senyum, berbaik sangka menahan amarah, dan memikat hati orang lain.
Benar Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “orang yang kuat bukanlah orang yang bisa berkelahi melainkan Ia yang mampu menguasai diri ketika ia marah”.
Rasulullah yang mulia memikat hati orang lain dengan senyum dan wajah ceria
Suatu ketika umat Islam keluar dari perang di Khaibar. Ditengah-tengah peperangan, dari benteng orang Yahudi di dapat ransel yang dipenuhi lemak. Diambil ransel itu oleh Abdullah Bin Mughfil Ra kemudian dipanggul dengan riang gembira menuju para sahabatnya.
Saat itu ia dijumpai Orang yang bertanggung jawab atas pengumpulan dan distribusi harta rampasan perang, ditarik lah ransel itu kepadanya serambi berkata berikan ransel ini untuk kita bagi pada semua umat Islam.
Abdullah memang kuat dan berkata, “tidak” Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepadamu Sebab aku lah lu mendapatkannya.
“Oh ya.. ?!” mereka pun saling tarik-menarik ransel itu.
Ketika lewat di tempat itu Rasulullah SAW menyaksikan mereka berdua saling tarik-menarik ransel tersebut, Beliau tersenyum dan tertawa. Kemudian bersabda kepada penanggung jawab harta rampasan perang, “ Sudahlah biarkan dia akhirnya orang itu membiarkan ransel itu dikuasai Abduloh”
Abdullah membawa ransel itu menemui teman-temannya lalu memakan bersama sama temannya.
Akhirnya senyummu pada saudaramu adalah sedekah
TELADAN
“Setiap kali melihatmu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selalu tersenyum”
(Sumber: Al-Arifi M ; 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar