Kamis, 02 Februari 2017

Hikmah Penciptaan Nabi Adam AS

Penciptaan Nabi Adam dan Hikmah Penciptaanya

Dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 30
وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٠
30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
Dalam ayat ini terdapat dua percakapan yaitu Allah yang berfirman "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"
Allah menjelaskan kepada malaikat bahwa Adam AS dan keturunanya akan menjadi penguasa-penguasa di bumi, namun malaikat berkata  “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Telah diketahui bawasanya pada zaman dahulu sebelum Adam AS di ciptakan bangsa jin telah berkuasa dan mereka melakukan pertumpahan darah dan Allah memerintahkan Malaikat untuk mengusir para jin ke daerah pesisir
Ada juga yang menceritakan bahwa makailat mengatakan begitu karena diperlihatkanya Kitab Lauhul Mahfuzh
Dari kata-kata malaikat “Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu”. Para malaikat tahu bahwasanya bumi diciptakan didalamnya ada makhluk yang saling bermusuhan.
Lalu Allah berfirman lagi “"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui"
Dalam ayat selanjutnya QS Al- Baqarah 31:
وَعَلَّمَ ءَادَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ فَقَالَ أَنۢبِ‍ُٔونِي بِأَسۡمَآءِ هَٰٓؤُلَآءِ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ٣١
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!
Ayat ini menjelaskan tentang kelebihan Adam As dan keturunanya, yaitu tentang ilmu pengetahuan
Allah mengajarkan Adam AS nama-nama dzat dan gerkanya, yang besar maupun kecil( Ibnu Abas Ra)
Begitulah penciptaan Adam AS yang sebelumya membuat heran malaikat namun mereka telah mengerti, Allah menciptakan suatu makhluk untuk menyembah kepada-Nya. Jangan menyombongkan diri dan jangan berbuat kerusakan di muka bumi


Rabu, 01 Februari 2017

Seni Mendengarkan


Seni  Mendengar
Seni memikat hati orang lain teramat banyak. Sebagian dengan melakukan sesuatu, sebagian dengan meninggalkan. Senyum bisa memikat hati. Sebaliknya muka masam bisa juga begitu. Perbincangan yang mengasikkan dan dengan seksama juga bisa. Sebaliknya, mendengar dengan seksama juga bisa demikian
Ya, ada sebagian orang yang tidak banyak bicara. Suaranya hampir tidak ada dalam forum. Bahkan, jika engkau mengawasinya dipertemuan, ia hanya mendengarkan dan menggerakkan kepala maupun mata. Sesekali mulut bergerak tetapi sebatas senyum, bukan bicara. Meskipun begitu, banyak orang menyukainya.Mereka senang duduk bersamanya.
Mengapa demikian ? . Sebab, ia mempraktikan sikap tenang yang menarik hati. Seni mendengar cukup banya, bahkan seseorang bercerita kepadaku bahwa ia menghadiri lebih dari limabelas pelatihan tentang keterampilan mendengar.
Coba bandingakn orang-orang berikut ini:
Jika engkau menceritakan kisah yang pernah di alami, dari awal ia sudah memotong dengan berkata, “Aku juga mengalami hal serupa”.
Kemudian engkau berkata, “Sabar, sampai aku selesai bercerita”. Ia pun diam sejenak.
Ketika engkau asyik bercerita, Ia kembali memotong pembicaraanmu, “Benar. Benar. Persis seperti yang aku alami. Ya, suatu hari aku pergi ke...”.
“Saudaraku, tunggu dulu,” engkau pun memotongnya.
Ia diam. Tak lama kemudian ia kembali memotong pembicaraanmu, “Memang...Memang...”
Ini tipikal orang Pertama.
Adapun orang kedua, saat engkau berbicara, ia menoleh ke kanan dan kiri. Sesekai ia mengeluarkan posel dari kantong, menulis atau membaca sms. Atau, siapa tahu ia asyik bermain game dengan poselnya.
Nah, orang ketiga menguasai seni mendengarkan. Tahu engkau sedang berceita, Ia pusatkan pandangan kepadamu. Engkau pun merasa diperhatikan. Sesekali ia menganggukkan kepala, sesekali tersenyum, dan sesekali menggigit bibir karena takjub. Bahkan sesekali ia berkomentar, “sungguh mengagumkan, Subhanallah!”.
Siapa di antara mereka yang paling engkau sukaiuntuk jidadikan teman duduk? Siapa diantara mereka yang paling kau suka untuk di kunjungi? Siapa diantara mereka yang paling kau sukai untuk diajak berbicara?
Sudah pasti yang terakhir.
Jadi, memikat orang takperlu dengan memperdengarkan sesuatu dengan yang mereka suka untuk di perdengarkan.
Ada seorang Dai terkemuka, Ia berceramah dimimbar Jumat, kursi fatwa, hingga ruang kuliah . Ia terus berbicara. Orang-orang menontonya, secara langsung ketika ia di atas mimbar. Mereka suka menyimak pembicaraanya.
Tetapi tak demikian dengan istrinya. Selama di rumah, Ia hampir tak pernah mau mendengarkan curhatan sang istri. Seperti biasanya ia lebih suka berbicara.
Sang istri curhat tapi Ia tidak menyadari. Setiap orang menghormat dan menyayangi kecual sang istri. Suatu hari ia memutuskan untuk membawa serta istri menghadiri salahsatu kuliahnya.
Tujuanya agar ia bisa menyaksikan apa yang selama ini belum pernah ia lihat.
“Maukah engkau ikut denganku?”
“Mau kemana?”
“Memenuhi ungangan ceramah. Barangkali kita bisa mengambil manfaatnya”
Mereka berdua naik ke mobil, kemudian berangkat. Taklama tibalah di masjid. Saat itu istri bergabung dengan jamaah perempuan. Sememtara itu dai maju dan duduk di kursi mimbar dan muali berceramah.
Hadirin terdiam dan berdecak kagum. Bahkan sang istri tampak terpesona. Usai berceramah, ia keluar menuju mobil.Istri menyusul dan duduk di sampingnya.
Tanpa memberi kesempatan sang istri, Ia langsung berbicara tentang banyak orang yang datang, Keindahan Masjid dan sebagainya.
Ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang ceramahku tadi?”
“sungguh Indah dan mengesankan. Tetapi, siapakah yang berbicara?
“Aneh, engkau tidak mengenal suaranya?”
“Karena orang yang hadir begitu banyak, sedang suaranya terdengar samar, aku tak begtu mengenalnya.”
“Itu aku. Akulah orang yang berbicara tadi,” katanya dengan bangga.
Sang istri berkata “Oh, ya? Sepanjang duduk Ia berkata dalam hati, Ternyata pembicaraan ini cerewet juga”.
Jadi, mendengarkan orang lain berbicara itu merupakan sebuah seni dan keterampilan. Sebagian orang lupa bahwa Allah menciptakan untukmu satu lidah dan dua telinga supaya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Maka, biasakanlah diam ketika orang lain berbicara. Bahkan, kalau pun engkau berkesempatan untuk berbicara, jangan tergesa-gesa.
Pada awal kenaban, umat Islam sangat sedikit. Orang kafir mendustakan Rasulullah, bahkan menjauhkan manusia dari nya. Mereka menuduh dukun dan pendusta. Mereka bahkan menuduh penyihir dan orang gila.
Suatu hari Dhmad datang ke Makkah. Dia bijaksana, menguasai ilmu kedokteran dan pengobatan, termasuk mengobati orang gila dan terkena sihir.
Ketika membau dengan orang banyak, Ia mendengar orang kafir berbicara tentang Rasulullah. “Orang gila sudah datang, kami melihat orang gila.”
“Dimana Orang gila itu? Kata Dhamad “Siapa tahu Allah menyembuhkan lewat tanganku”. Orang-orang memujuk kepada Rasulullah.
Saat bertatap muka dengan Rasulullah , Dhamad mengamati wajah Nabi SAW. Ternyata tampan dan bersinar. Dhamad terus terang menyampaikan tujuannya kemari, “Wahai Muhammad, aku akam membebaskanmu dari sihir. Sesungguhya Allah menyembuhkan siapa saja yang dikehendaki di tanganku. Mari, aku akam mengobatimu”
Dhamad terus bicara tentang kemampuan mengobati, Nabi menyimak dengan saksama. Jika ia bicara, Rasulullah diam.
Tahukah engka, Nabi diam ketika siapa yang berbicara? Beliau diam ketika orang kafir yang bicara. Lebih dari itu, ia mengaku akan mengobati dari penyakit gila.
Betapa bijaksana Rasulullah saw.
Usai Dhamad berbicara, dengan sangat tenang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorangpun dapat menyesatkanya. Dan, barangsiapa tersesat, tidak seorangpun dapat memberi petunjuk. Aku bersaksi  bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya”.
Dhamad terhentak. “Ulangi kata-katamu,” pintanya. Rasulullah mengulang kembali kata-katanya.
Dhamad berkata, “ Demi Tuhan, aku telah mendengar kata-kata para dukun, tukang sihir, dan penyair, tetaip aku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu. Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat masuk Islam”.
Rasulullah mengulurkan tangan, Sejak saat itu Dhamad melepaskan pakaian pakaian kekufuran dan berkali-kali mengucapkan,”Asyhadu an al ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu”
Rasulullah tahu Dhamad sangat dihormati kaumya. Beliau bertanya, “Apa engkau bersedia menyeru Islam kepada mereka?”.
“Aku akan menyeru pada kaumku,” jawab Dhamad
Dhamad kembali kepada kaumnya, kemudian meretas jalan dakwah.
Jadilah pendengar yang baik. Diam dan gerakan tanganmu.
Beri tanggapan yang baik dengan bahasa wajahmu, seperti mengerutkan kening, mengangkat alis, tersenyum, dan berdecak kagum
Lihatlah pengaruh sikap semacam itu terhadap orang yang berbicara denganmu, baik ia sudah besar maupun masih kecil. Engkau akan menyaksikan memerlihatkanmu, dan menyerkan sepenuh hati kepadamu.
KESIMPULAN
”Kepandaian kita mendengarkan orang lain menjadikan mereka pandai mencintai dan menyayangi kita”
(Sumber: Al- Arifi M;2015)


SENYUM, SENYUM, DAN SENYUM

Senyum senyum dan senyum
Aku sudah lama mengenalnya rekan sejawatku. Tetapi Percayalah engkau bahwa sampai saat ini aku sendiri tidak tahu Apakah giginya sudah tumbuh atau tidak. Ia selalu  tak berekspresi, jika senyum usianya seperti berkurang atau hartanya bisa hilang.
Jarir bin Abdullah Al Bajali berkata, “Setiap kali Rasulullah bertemu denganku beliau selalu tersenyum kepadaku”.
Selain bermacam-macam, senyum itu juga memiliki berapa tingkatan. Ada yang menandakan senantiasa keceriaan. Demikian ini ditandai dengan raut wajahmu yang berseri-seri. Jika engkau seorang guru ketika bertatap muka dengan murid pasangkan lah wajahmu berseri-seri. Atau saat engkau naik pesawat terbang dalam perjalanan diantara tempat duduk orang lain, lemparkanlah keceriaan. Ketika engkau masuk warung atau bank dan menyodorkan uang untailah senyum. Manakala engkau di forum tiba-tiba seorang masuk dan mengucapkan salam dengan suara tinggi sambil menyiapkan pandangan kepada hadirin Tersenyumlah.
Secara umum senyum sangatlah berpengaruh untuk meredam amarah keraguan dan kebimbangan. Seorang jagoan adalah yang mampu menguasai perasaan dan Tersenyum Dalam keadaan pahit sekalipun.
Suatu hari Anas bin Malik berjalan bersama Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam. Kebetulan Rasulullah saat itu mengenakan baju burd najrani, yang bagian pinggirnya keras.Tiba-tiba salah seorang Arab pedalaman mengejar mereka. Setelah dekat, orang itu menarik pakaian Nabi dengan keras sampai bergerak kasar di bagian leher beliau.
Anas berkata, “karena teramat keras aku sampai melihat bekas tarikan bahu Rosululloh”.
Apa sebenarnya yang diinginkan orang ini?
Apakah rumahnya kebakaran dan menginginkan bala bantuan?
Apakah iya dikejar-kejar orang musyrik dan meminta pertolongan?
Dengarkan apa yang ia inginkan?
Ia berkata , “Wahai Muhammad! (perhatikan ia tidak memanggil wahai Rasulullah).”
Ia berkata, “ Wahai Muhammad Perlihatkan kepadaku terhadap harta yang Allah titipkan padamu!”.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menoleh, kemudian tertawa. Setelah itu, beliau perlihatkan orang itu diberi sesuatu
Ya, Rasulullah tak mudah terprovokasi oleh keadaan seperti ini. Beliau tidak ringan tangan dalam hukum dan bersitegang untuk urusan sepele. Beliau berlapang dada dan kuat mengontrol emosi. Simpul senyum selalu terdapat padanya dalam keadaan pahit sekalipun. Sebelum melakukan sesuatu beliau selalu berpikir dampak dan akibat nya. Beliau sadar betul bahwa berteriak atau mengusir orang itu tidak ada gunanya.
Apakah dengan begitu luka di leher beliau kemudian jadi sembuh?! Apakah orang itu kemudian akan berubah jadi santun?! tentu  tidak ada pilihan selain sabar dan tabah.
Memang ada beberapa hal yang membuat kita berontak dan marah. Memperbaiki adalah sesuatu yang sama sekali berbeda. Kita harus memperbaiki dengan ramah, lembut, senyum, berbaik sangka menahan amarah, dan memikat hati orang lain.
Benar Sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam, “orang yang kuat bukanlah orang yang bisa berkelahi melainkan Ia yang mampu menguasai diri ketika ia marah”.
Rasulullah yang mulia memikat hati orang lain dengan senyum dan wajah ceria
Suatu ketika umat Islam keluar dari perang di Khaibar. Ditengah-tengah peperangan, dari benteng orang Yahudi di dapat ransel yang dipenuhi lemak. Diambil ransel itu oleh Abdullah Bin Mughfil Ra kemudian dipanggul dengan riang gembira menuju para sahabatnya.
Saat itu ia dijumpai Orang yang bertanggung jawab atas pengumpulan dan distribusi harta rampasan perang, ditarik lah ransel itu kepadanya serambi berkata berikan ransel ini untuk kita bagi pada semua umat Islam.
Abdullah memang kuat dan berkata, “tidak” Demi Allah, aku tidak akan memberikan kepadamu Sebab aku lah lu mendapatkannya.
“Oh ya.. ?!” mereka pun saling tarik-menarik ransel itu.
Ketika lewat di tempat itu Rasulullah SAW menyaksikan mereka berdua saling tarik-menarik ransel tersebut, Beliau tersenyum dan tertawa. Kemudian bersabda kepada penanggung jawab harta rampasan perang, “ Sudahlah biarkan dia akhirnya orang itu membiarkan ransel itu dikuasai Abduloh”
Abdullah membawa ransel itu menemui teman-temannya lalu memakan bersama sama temannya.
Akhirnya senyummu pada saudaramu adalah sedekah
TELADAN
“Setiap kali melihatmu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selalu tersenyum”
(Sumber: Al-Arifi M ; 2015)