Rabu, 01 Februari 2017

Seni Mendengarkan


Seni  Mendengar
Seni memikat hati orang lain teramat banyak. Sebagian dengan melakukan sesuatu, sebagian dengan meninggalkan. Senyum bisa memikat hati. Sebaliknya muka masam bisa juga begitu. Perbincangan yang mengasikkan dan dengan seksama juga bisa. Sebaliknya, mendengar dengan seksama juga bisa demikian
Ya, ada sebagian orang yang tidak banyak bicara. Suaranya hampir tidak ada dalam forum. Bahkan, jika engkau mengawasinya dipertemuan, ia hanya mendengarkan dan menggerakkan kepala maupun mata. Sesekali mulut bergerak tetapi sebatas senyum, bukan bicara. Meskipun begitu, banyak orang menyukainya.Mereka senang duduk bersamanya.
Mengapa demikian ? . Sebab, ia mempraktikan sikap tenang yang menarik hati. Seni mendengar cukup banya, bahkan seseorang bercerita kepadaku bahwa ia menghadiri lebih dari limabelas pelatihan tentang keterampilan mendengar.
Coba bandingakn orang-orang berikut ini:
Jika engkau menceritakan kisah yang pernah di alami, dari awal ia sudah memotong dengan berkata, “Aku juga mengalami hal serupa”.
Kemudian engkau berkata, “Sabar, sampai aku selesai bercerita”. Ia pun diam sejenak.
Ketika engkau asyik bercerita, Ia kembali memotong pembicaraanmu, “Benar. Benar. Persis seperti yang aku alami. Ya, suatu hari aku pergi ke...”.
“Saudaraku, tunggu dulu,” engkau pun memotongnya.
Ia diam. Tak lama kemudian ia kembali memotong pembicaraanmu, “Memang...Memang...”
Ini tipikal orang Pertama.
Adapun orang kedua, saat engkau berbicara, ia menoleh ke kanan dan kiri. Sesekai ia mengeluarkan posel dari kantong, menulis atau membaca sms. Atau, siapa tahu ia asyik bermain game dengan poselnya.
Nah, orang ketiga menguasai seni mendengarkan. Tahu engkau sedang berceita, Ia pusatkan pandangan kepadamu. Engkau pun merasa diperhatikan. Sesekali ia menganggukkan kepala, sesekali tersenyum, dan sesekali menggigit bibir karena takjub. Bahkan sesekali ia berkomentar, “sungguh mengagumkan, Subhanallah!”.
Siapa di antara mereka yang paling engkau sukaiuntuk jidadikan teman duduk? Siapa diantara mereka yang paling kau suka untuk di kunjungi? Siapa diantara mereka yang paling kau sukai untuk diajak berbicara?
Sudah pasti yang terakhir.
Jadi, memikat orang takperlu dengan memperdengarkan sesuatu dengan yang mereka suka untuk di perdengarkan.
Ada seorang Dai terkemuka, Ia berceramah dimimbar Jumat, kursi fatwa, hingga ruang kuliah . Ia terus berbicara. Orang-orang menontonya, secara langsung ketika ia di atas mimbar. Mereka suka menyimak pembicaraanya.
Tetapi tak demikian dengan istrinya. Selama di rumah, Ia hampir tak pernah mau mendengarkan curhatan sang istri. Seperti biasanya ia lebih suka berbicara.
Sang istri curhat tapi Ia tidak menyadari. Setiap orang menghormat dan menyayangi kecual sang istri. Suatu hari ia memutuskan untuk membawa serta istri menghadiri salahsatu kuliahnya.
Tujuanya agar ia bisa menyaksikan apa yang selama ini belum pernah ia lihat.
“Maukah engkau ikut denganku?”
“Mau kemana?”
“Memenuhi ungangan ceramah. Barangkali kita bisa mengambil manfaatnya”
Mereka berdua naik ke mobil, kemudian berangkat. Taklama tibalah di masjid. Saat itu istri bergabung dengan jamaah perempuan. Sememtara itu dai maju dan duduk di kursi mimbar dan muali berceramah.
Hadirin terdiam dan berdecak kagum. Bahkan sang istri tampak terpesona. Usai berceramah, ia keluar menuju mobil.Istri menyusul dan duduk di sampingnya.
Tanpa memberi kesempatan sang istri, Ia langsung berbicara tentang banyak orang yang datang, Keindahan Masjid dan sebagainya.
Ia bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang ceramahku tadi?”
“sungguh Indah dan mengesankan. Tetapi, siapakah yang berbicara?
“Aneh, engkau tidak mengenal suaranya?”
“Karena orang yang hadir begitu banyak, sedang suaranya terdengar samar, aku tak begtu mengenalnya.”
“Itu aku. Akulah orang yang berbicara tadi,” katanya dengan bangga.
Sang istri berkata “Oh, ya? Sepanjang duduk Ia berkata dalam hati, Ternyata pembicaraan ini cerewet juga”.
Jadi, mendengarkan orang lain berbicara itu merupakan sebuah seni dan keterampilan. Sebagian orang lupa bahwa Allah menciptakan untukmu satu lidah dan dua telinga supaya engkau lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Maka, biasakanlah diam ketika orang lain berbicara. Bahkan, kalau pun engkau berkesempatan untuk berbicara, jangan tergesa-gesa.
Pada awal kenaban, umat Islam sangat sedikit. Orang kafir mendustakan Rasulullah, bahkan menjauhkan manusia dari nya. Mereka menuduh dukun dan pendusta. Mereka bahkan menuduh penyihir dan orang gila.
Suatu hari Dhmad datang ke Makkah. Dia bijaksana, menguasai ilmu kedokteran dan pengobatan, termasuk mengobati orang gila dan terkena sihir.
Ketika membau dengan orang banyak, Ia mendengar orang kafir berbicara tentang Rasulullah. “Orang gila sudah datang, kami melihat orang gila.”
“Dimana Orang gila itu? Kata Dhamad “Siapa tahu Allah menyembuhkan lewat tanganku”. Orang-orang memujuk kepada Rasulullah.
Saat bertatap muka dengan Rasulullah , Dhamad mengamati wajah Nabi SAW. Ternyata tampan dan bersinar. Dhamad terus terang menyampaikan tujuannya kemari, “Wahai Muhammad, aku akam membebaskanmu dari sihir. Sesungguhya Allah menyembuhkan siapa saja yang dikehendaki di tanganku. Mari, aku akam mengobatimu”
Dhamad terus bicara tentang kemampuan mengobati, Nabi menyimak dengan saksama. Jika ia bicara, Rasulullah diam.
Tahukah engka, Nabi diam ketika siapa yang berbicara? Beliau diam ketika orang kafir yang bicara. Lebih dari itu, ia mengaku akan mengobati dari penyakit gila.
Betapa bijaksana Rasulullah saw.
Usai Dhamad berbicara, dengan sangat tenang Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kepada-Nya kita memuji dan memohon pertolongan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, tidak seorangpun dapat menyesatkanya. Dan, barangsiapa tersesat, tidak seorangpun dapat memberi petunjuk. Aku bersaksi  bahwa tiada tuhan yang patut disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya”.
Dhamad terhentak. “Ulangi kata-katamu,” pintanya. Rasulullah mengulang kembali kata-katanya.
Dhamad berkata, “ Demi Tuhan, aku telah mendengar kata-kata para dukun, tukang sihir, dan penyair, tetaip aku belum pernah mendengar kata-kata seperti itu. Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat masuk Islam”.
Rasulullah mengulurkan tangan, Sejak saat itu Dhamad melepaskan pakaian pakaian kekufuran dan berkali-kali mengucapkan,”Asyhadu an al ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluhu”
Rasulullah tahu Dhamad sangat dihormati kaumya. Beliau bertanya, “Apa engkau bersedia menyeru Islam kepada mereka?”.
“Aku akan menyeru pada kaumku,” jawab Dhamad
Dhamad kembali kepada kaumnya, kemudian meretas jalan dakwah.
Jadilah pendengar yang baik. Diam dan gerakan tanganmu.
Beri tanggapan yang baik dengan bahasa wajahmu, seperti mengerutkan kening, mengangkat alis, tersenyum, dan berdecak kagum
Lihatlah pengaruh sikap semacam itu terhadap orang yang berbicara denganmu, baik ia sudah besar maupun masih kecil. Engkau akan menyaksikan memerlihatkanmu, dan menyerkan sepenuh hati kepadamu.
KESIMPULAN
”Kepandaian kita mendengarkan orang lain menjadikan mereka pandai mencintai dan menyayangi kita”
(Sumber: Al- Arifi M;2015)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar